Blogger

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 22 April 2013

Surat Untuk Para Saudaraku.

Jujur saja, saya menulis tulisan ini karena miris melihat interaksi antar aktivis dakwah, khususnya aktivis beda harakah. Kita masih disibukkan dengan sesuatu yang berpuluh tahun telah diperdebatkan oleh orang sebelum kita, masalah konsep, masalah sistem dan metode dalam berdakwah. Apakah tema ini akan tetap kita wariskan kepada generasi akan datang? Sehingga dari generasi ke generasi akan tetap memperdebatkan masalah ini? Inikah umat terbaik? Tentunya kita merasakan “konflik” yang sering melanda aktivis harakah, saya tidak melibatkan organisasinya, saya menyebut “konflik” ini lebih kepada personal, karena itulah yang kita jumpai di lapangan. Tak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya.

Indonesia kini menjadi lahan subur bagi pergerakan Islam. Sehingga geliat dakwah dan keislaman terasa membahana di bumi pertiwi, di mana-mana selalu saja ada yang menyeru kepada kebenaran Islam, seolah tidak ada ruang yang kosong. Alhamdulillah, geliat dakwah itu berasal dari aktivis pergerakan Islam yang aktif berdakwah, seolah tidak pernah letih dalam mengemban amanah yang memberatkan punggungnya, aktivis yang selalu berpeluh demi kerja-kerja besar, aktivis pergerakan yang selalu menghiasi bibirnya dengan kata hikmah. Subhanallah, semoga Allah membalas kalian dengan syurgaNya. Peluhmu, letihmu, waktumu yang tersita, perasaanmu, dan semua yang telah kalian korbankan demi pencerahan kepada umat.

Saya pikir semua aktivis harakah Islam paham dan hafal, sebuah surat cinta dari Allah yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berjuang di jalannya dengan shaff yang rapi. Renungkan ayat ini, karena tanpa shaf yang rapi maka kejayaan itu mustahil akan tercapai. Dan shaf yang dimaksud di sini bukan shaf dalam satu harakah saja, namun shaf seluruh umat Islam.

Fakta di lapangan berbeda dengan ukhuwah yang sering dibahas dalam kajian yang kita geluti, seolah perbedaan harakah di antara kita menjadi hijab yang rentan dengan konflik. Konflik itu biasanya tergambar dari sikap dan tanggapan kita terhadap saudara di lintas harakah. Bukankah kita hafal di luar kepala, ayat Allah yang menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Apakah kita lupa dengan ayat sering kita baca berulang-ulang itu? Ayat yang semakin mengokohkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, hingga tidak ada lagi kata perbedaan status di antara mereka. Lalu ada apa dengan kita?
Subhanallah, kudapati dalam diri kalian wahai para aktivis pergerakan Islam, tanpa membedakan harakah kalian. Ruh semangat juang yang begitu tinggi, kita mempunyai cita yang sama. Kembalinya sebuah kejayaan yang dijanjikan Rasulullah. Cita itu begitu agung dan telah menyatu dengan aliran darah dan desahan nafas kita. Sebuah impian yang sebentar lagi akan terwujud saudaraku, jangan hancurkan impian itu! Yah mungkin kita menatap impian yang masih di puncak gunung itu di tempat yang berbeda, ada yang menatap impian itu dari sebelah kanan, kiri, depan, belakang. Atau mungkin kita menatap impian itu dalam keadaan yang berbeda pula, ada dengan posisi miring, ada yang sementara duduk, berdiri, berjalan, berlari. Dan karena keadaan dan tempat yang berbeda itulah sehingga menjadikan kita berbeda, yang penting tidak ada di antara kita yang menatap impian itu dengan keadaan berpangku tangan.

Ada pepatah yang menyatakan, banyak jalan menuju roma. Itulah yang terjadi dengan kita saat ini, semua harakah mempunyai jalan tersendiri untuk mencapai tujuan. Yang jelasnya kompas yang digunakan sebagai penunjuk jalan adalah Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga tidak ada yang melenceng dan tersesat, saya yakin semua mempunyai pegangan yang kuat. dan inilah yang membuat kita sering larut dalam “konflik” antar aktivis, karena kita masih saja memperdebatkan apa yang memang tidak bisa kita persatukan, karena memang dasar dalam memandang suatu masalah yang berbeda. Di antara sekian banyak perbedaan, kenapa kita tidak mencari persamaan?

Harakah Islam saya gambarkan sebagai pelangi yang indah, semua mata akan betah memandangnya seraya bibirnya mengucap tasbih akan keindahan ciptaan Ilahi. Namun bagaimana jika pelangi itu menjadi tidak beraturan? Apakah masih akan indah kelihatan? Ataukah itu menjadi tanda kiamat?
Ada hadits yang mengatakan bahwa perbedaan umatku adalah rahmat, walaupun disebutkan bahwa hadits itu dhaif, Tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, karena isi dari kalimat tersebut tidak salah, bahkan sesuai dengan kondisi kita saat ini. Anggap perbedaan ini rahmat sehingga “konflik” bisa kita hilangkan. Lihatlah dalam satu kebun, pasti akan menambah keindahan jika ditumbuhi beraneka ragam bunga. Ada berwarna kuning, putih, merah, ungu. Sebenarnya jika kita ingin saling mengerti dan memahami, maka semuanya akan menjadi indah. Islam mengatur hubungan interaksi dengan non muslim dengan baik, lalu kenapa kita harus memelihara hubungan yang kurang harmonis?
Saudaraku, lihatlah impian yang di puncak gunung sana sedang melambaikan tangannya kepada kita, dia merindukan kita untuk segera sampai ke sana, dan kita pun dengan segala upaya menghampirinya, sekarang kita sementara berlari ke arahnya, jangan sampai karena perbedaan latar belakang membuat kita saling menjatuhkan di tengah jalan, jika kita saling menjatuhkan maka siapakah yang akan sampai ke sana? Impian itu semakin melambaikan tangannya, jangan sampai impian itu dihancurkan oleh ego kita semua. Saatnya kita saling memapah, menopang dan saling menguatkan. Jika ada saudaramu yang terjatuh mari kita papah dia, bukan malah menyumpahi dengan sumpah serapah atau menertawakannya.

Ada penyakit yang menjangkiti hati kita sebagai aktivis harakah Islam. Ketika kita menganggap harakah kita paling sempurna dan harakah yang lain buruk, bahkan membid’ahkan dan menyesatkan harakah lain. Padahal tidak ada satu pun harakah yang sempurna, semua ada celahnya dan kekurangannya, karena buatan manusia jadi tidak ada yang sempurna. Namun celah dan kekurangan itu bisa ditutupi dengan bersatunya semua harakah Islam, kita saling melengkapi dan menutup kekurangan. Bukan malah saling membongkar kekurangan, tidak cukupkah Rasulullah menjadi panutan kita? Pernahkah beliau mengajari kita untuk membongkar aib dan kekurangan saudara sendiri? Rasulullah bersabda barang siapa yang menjaga aib saudaranya maka Allah akan menjaga aibnya di hari kiamat.
Maaf atas segala kesalahan,

Wallahu A’lam bis shawab!

Sumber: dakwatuna

Jumat, 19 April 2013

Waktu & Tempat yang baik untuk berdoa

Ibnu 'Atha' menjelaskan doa itu mempunyai beberapa rukun (sendi) yang menyebabkan teguh dan kuat berdirinya, mempunyai beberapa sayap yang menyebabkan ia naik ke langit tinggi, mempunyai beberapa sebab yang menyebabkan diterimanya. Maka apabila doa-doa itu dilekatkan di atas rukun-rukun (sendi-sendinya), maka kokoh dan tegaklah berdirinya doa itu. Jika ia mempunyai sayap, maka terbanglah ia ke langit menuju tujuannya dan jika ada sebabnya, maka diterimalah doa itu."

Menurut Ibnu 'Atha', rukun-rukun doa itu, ialah: kehadiran hati bila berdoa, serta tunduk menghinakan diri kepada Allah. 

Sayap-sayapnya, ialah: berdoa dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dan lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Sebab utama doa diterima ialah bershalawat kepada Nabi sebelum berdoa. 

Waktu-waktu untuk berdoa, ialah: 
  1. Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
  2. Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
  3. Ketika turun hujan.
  4. Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
  5. Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
  6. Di tengah malam.
  7. Di antara adzan dan iqamat.
  8. Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
  9. Ketika sujud dalam shalat.
  10. Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
  11. Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
  12. Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
  13. Antafa Zhuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
  14. Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
  15. Pada waktu minum air zam-zam.
Nabi Saw. bersabda: 


Artinya: "Tuhan turun ke langit dunia, ketika malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa yang mendoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan doanya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dia." (HR. Bukhârî dan Muslim). 


Artinya: "Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana jika seseorang Muslim memohon kepada Allah suatu kebajikan dunia dan akhirat ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya." (HR. Muslim). 


Artinya: "Mendoalah di saat doa itu diperkenankan Tuhan; yatu: di saat berjumpa pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan salat dan ketika turun hujan." (HR. Al-Syâfi'i).


Artinya: "Tidak ditolak suatu doa yang dimohonkan antara adzan dan iqamat. (HR. Al-Turmudzî). 


Artinya: "Inginkah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan tezeki bagi kalian? Maka berdoalah kalian kepada Allah diwaktu malam dan diwaktu siang. Karena sesunggunya doa itu adalah senjata orang mukmin."(HR. Abû Ya'lâ). 


Artinya: "Ditanyakan orang kepada Rasulullah Saw. Wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah."? Rasulullah menjawab: "Doa ditengah malam dan doa setelah shalat wajib." (HR. Al-Turmudzî). 

Artinya: "Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika itu)." (HR. Muslim). 

 
Artinya: "Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut. Dan tinggalkanlah (cara-cara) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (Al-A'râf: 180) 

Tempat-tempat yang baik untuk berdoa 
  1. Di kala melihat ka'bah.
  2. Di kala me1ihat mesjid Rasulullah Saw.
  3. Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
  4. Di sisi Multazam. Didalam Ka'bah.
  5. Di sisi sumur Zamzam.
  6. Di belakang makam Ibrahim.
  7. Di atas bukit Shafa dan Marwah.
  8. Di 'Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.
Thanks To : www.abatasa.com

Sabtu, 13 April 2013

Ini Ibu :)



MARTABAT ibu lebih tinggi daripada bapa kerana hubungannya dengan anak lebih hampir kerana merekalah yang mengandung, melahirkan, menyusukan serta membesarkan anak.
Dengan kehadiran cahaya mata menjadikan tanggungjawab ibu semakin berat kerana perlu menggalas beberapa tugas dalam satu masa.
Ibu pastinya sentiasa meletakkan kepentingan anak dan keluarga melebihi dirinya. Sebab itu martabat ibu terletak pada kedudukan kedua tertinggi selepas mentaati Allah.
Perkara itu berdasarkan ‘tartibul kalimat’ iaitu susunan keutamaan seperti ditegaskan Allah menerusi firman-Nya dalam Surah al-Israa’ ayat 23 yang bermaksud: “Dan Tuhanmu perintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa.”



Imam Bukhari meriwayatkan kisah daripada Said bin Abi Burdah mengenai seorang lelaki Yaman yang bertawaf sambil mendukung ibunya.
Selesai tawaf, beliau bertanya Ibnu Umar: “Apakah dengan khidmat dan pengorbananku ini dapat membalas jasa bakti ibuku?” Jawab Ibnu Umar: “Tidak, apa yang kamu lakukan tadi tidak akan dapat menebus jasa ibumu sekalipun sekadar hembusan nafas ketika kesakitan melahirkan kamu.”
Martabat tinggi itu adalah berdasarkan peranan terbesar ibu mengandungkan anaknya yang tidak mampu dipikul seorang lelaki pun.
Apabila lahirnya anak ke dunia ini, ibu sebenarnya sudah diangkat menjadi pendakwah di dalam keluarga. Tugas yang perlu mereka laksanakan antaranya bertanggungjawab mendidik serta menerapkan akhlak terpuji kepada anak.

Maka, setiap ibu tidak terlepas daripada memikul tanggungjawab sebagai pendakwah. Sejak dari dalam kandungan lagi, ibu adalah guru dan sekolah pertama bagi anak.
Agenda utama dakwah ialah membina peribadi Muslim yang sempurna dan mantap.
Peranan ibu sebagai pendakwah di sini ialah dalam konteks melayan kerenah anak yang sedang melalui zaman peralihan hidup.
Ibu perlu memahami cabaran persekitaran dalam proses pembentukan anaknya.
Mereka perlu mempelajari teknik pembangunan anak seperti mengawal emosi, kaunseling, teknik membimbing anak bermasalah dan juga teknik memuji sebagai penghargaan.
Setiap kesilapan dan kesalahan yang dilakukan perlu diperbetulkan secara bijaksana. Cara menegur dengan leteran, menengking, marah atau ugutan amat tidak bersesuaian kerana ia akan menerbitkan perasaan dendam, sedih, malu dan memberi tekanan kepada anak.
Perunding motivasi syariah, Mohd Fakhrurrazi Mohd Hanapi berkata, Imam Malik pernah ditanya bagaimanakah beliau memperoleh anak alim dan soleh mosleh.
“Jawapan beliau, aku pilih ibunya. Kisah ini bermaksud pendakwah yang disegani dalam skop perbincangan wanita bermula dari peringkat awal lagi iaitu pemilihan bakal isteri.
“Dari aspek pemilihan bakal isteri, nabi junjungan menyarankan kita memilih yang beragama. Seorang penyair Arab berkata, sang ibu itu samalah dengan sekolah, jika anda pandai menyesuaikannya… samalah seperti anda membangunkan suatu umat yang baik keturunannya… Oleh yang demikian, tidak dapat dinafikan lagi pentingnya peranan kedua ibu bapa dalam mendidik anak mereka menjadi insan yang berguna.
“Ibu adalah murabbi (pendidik). Betapa bahagianya ibu bapa dapat diumpamakan seperti, mereka dapat melihat buah (hasil) bahkan dapat juga berlindung di bawah pohon yang mereka tanam dahulu.
“Itulah ‘seni’ mendidik anak; perlu secara halus, dalam lembut ada tegasnya, dalam semangat ada berkat,”katanya.
Beliau berkata, ulama tersohor Abdullah Naseh Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad menggariskan lima panduan dalam kaedah mendidik anak serta mengekalkan disiplinnya.
“Pertama, menunjukkan contoh teladan iaitu mengambil Nabi Muhammad s.a.w sebagai ikutan.
“Kita pernah mendengar orang tua kata, anak adalah cermin ibu bapanya. Kalaulah ibu atau ayahnya seorang yang baik sudah pasti anaknya juga begitu.
“Kedua, memastikan disiplin anak dengan cara kebiasaannya. Pujangga Arab berkata, sesiapa yang terdidik dari kecilnya maka akan terbiasa sehingga dewasa.
“Bahkan imam Ghazali menyatakan, akhlak adalah perbuatan yang tidak perlu kepada berfikir dahulu, iaitu tindakan terus akibat menjadikan perbuatan itu adat kebiasaannya.
“Ketiga, menggunakan nasihat dan bimbingan. Anak mana yang sentiasa berdisiplin dan dengar kata. Sudah pasti ada kenakalan atau ragam mereka yang perlu kita tegur.
“Ini selaras dengan dasar pendidikan agama iaitu, nasihat. Bukan sekadar ibu bapa perlu menasihatkan anak, malah ibu bapa wajar meminta pandangan dan nasihat dari anak mereka.
“Keempat, pendidikan berterusan dengan pemerhatian serta pengawasan ibu bapa.
Apabila anak meningkat remaja ibu bapa perlu mengawasi anak daripada berbuat perkara yang menyalahi agama.
“Kelima, disiplinkan anak dengan denda dan hukuman. Ia bukan bersifat menghukum tetapi lebih kepada mendidik agar mereka mematuhi konsep tarbiah.
“Ajar anak dengan contoh persekitaran mereka seperti pencuri akan ditangkap polis dan dihukum. Ini satu bentuk gambaran kepada keterbatasan tindak tanduk anak, iaitu mereka boleh bergembira tetapi ada batasannya,” katanya.
Menurutnya, seorang ibu wajar berniat, aku adalah ibu yang terbaik kepada anakku dan isteri solehah kepada suamiku.
“Niat ini bukan saja doa malah menjadi ingatan kepada diri supaya tahu matlamat diri sendiri. Dalam Islam, tidak menjadi kesalahan bagi seorang ibu untuk bekerja.
“Malah, isteri yang reda dan ikhlas dalam bekerja bagi membantu suaminya mencari nafkah akan memperoleh ganjaran seumpama berjihad.
“Pepatah barat ada menyatakan, “you win some, you loose some”. Tiada kemenangan kepada kedua-duanya tetapi keseimbangan dalam pembahagian masa dan perhatian diperlukan dalam menangani konflik seperti ini.
“Tiada gunanya hebat dalam kerjaya tetapi membiarkan anak gersang kasih sayang.
Apabila rumah kosong dengan kasih sayang, mereka akan mencari kasih sayang di luar,” katanya.
Katanya, ibu sebagai pendidik dalam keluarga perlu membiasakan diri dengan sikap sentiasa mahu belajar.
“Jangan malu bertanya. Tambah ilmu serta bertukar pandangan dengan alim ulama atau menghadiri kursus keibubapaan bagi menajamkan kemahiran mendidik anak generasi kini.
“Kita perlu menambah maklumat yang boleh digunakan dalam mendidik anak bagi menjauhkan mereka daripada anasir negatif.
“Jangan sampai tersedar selepas anak disahkan menagih dadah, mengandungkan anak luar nikah atau ditangkap polis kerana melakukan jenayah.
“Peranan ibu bukan sekadar melahirkan malah mendidik dengan penuh keikhlasan supaya anak menjadi sebutir mutiara di celahan deraian kaca,” katanya.