Jujur saja, saya menulis tulisan ini
karena miris melihat interaksi antar aktivis dakwah, khususnya aktivis
beda harakah. Kita masih disibukkan dengan sesuatu yang berpuluh tahun
telah diperdebatkan oleh orang sebelum kita, masalah konsep, masalah
sistem dan metode dalam berdakwah. Apakah tema ini akan tetap kita
wariskan kepada generasi akan datang? Sehingga dari generasi ke generasi
akan tetap memperdebatkan masalah ini? Inikah umat terbaik? Tentunya
kita merasakan “konflik” yang sering melanda aktivis harakah, saya tidak
melibatkan organisasinya, saya menyebut “konflik” ini lebih kepada
personal, karena itulah yang kita jumpai di lapangan. Tak hanya di dunia
nyata tapi juga di dunia maya.
Indonesia kini menjadi lahan subur
bagi pergerakan Islam. Sehingga geliat dakwah dan keislaman terasa
membahana di bumi pertiwi, di mana-mana selalu saja ada yang menyeru
kepada kebenaran Islam, seolah tidak ada ruang yang kosong.
Alhamdulillah, geliat dakwah itu berasal dari aktivis pergerakan Islam
yang aktif berdakwah, seolah tidak pernah letih dalam mengemban amanah
yang memberatkan punggungnya, aktivis yang selalu berpeluh demi
kerja-kerja besar, aktivis pergerakan yang selalu menghiasi bibirnya
dengan kata hikmah. Subhanallah, semoga Allah membalas kalian dengan
syurgaNya. Peluhmu, letihmu, waktumu yang tersita, perasaanmu, dan semua
yang telah kalian korbankan demi pencerahan kepada umat.
Saya
pikir semua aktivis harakah Islam paham dan hafal, sebuah surat cinta
dari Allah yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berjuang di
jalannya dengan shaff yang rapi. Renungkan ayat ini, karena tanpa shaf
yang rapi maka kejayaan itu mustahil akan tercapai. Dan shaf yang
dimaksud di sini bukan shaf dalam satu harakah saja, namun shaf seluruh
umat Islam.
Fakta di lapangan berbeda dengan ukhuwah yang sering
dibahas dalam kajian yang kita geluti, seolah perbedaan harakah di
antara kita menjadi hijab yang rentan dengan konflik. Konflik itu
biasanya tergambar dari sikap dan tanggapan kita terhadap saudara di
lintas harakah. Bukankah kita hafal di luar kepala, ayat Allah yang
menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Apakah kita lupa
dengan ayat sering kita baca berulang-ulang itu? Ayat yang semakin
mengokohkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, hingga
tidak ada lagi kata perbedaan status di antara mereka. Lalu ada apa
dengan kita?
Subhanallah, kudapati dalam diri kalian wahai para
aktivis pergerakan Islam, tanpa membedakan harakah kalian. Ruh semangat
juang yang begitu tinggi, kita mempunyai cita yang sama. Kembalinya
sebuah kejayaan yang dijanjikan Rasulullah. Cita itu begitu agung dan
telah menyatu dengan aliran darah dan desahan nafas kita. Sebuah impian
yang sebentar lagi akan terwujud saudaraku, jangan hancurkan impian itu!
Yah mungkin kita menatap impian yang masih di puncak gunung itu di
tempat yang berbeda, ada yang menatap impian itu dari sebelah kanan,
kiri, depan, belakang. Atau mungkin kita menatap impian itu dalam
keadaan yang berbeda pula, ada dengan posisi miring, ada yang sementara
duduk, berdiri, berjalan, berlari. Dan karena keadaan dan tempat yang
berbeda itulah sehingga menjadikan kita berbeda, yang penting tidak ada
di antara kita yang menatap impian itu dengan keadaan berpangku tangan.
Ada
pepatah yang menyatakan, banyak jalan menuju roma. Itulah yang terjadi
dengan kita saat ini, semua harakah mempunyai jalan tersendiri untuk
mencapai tujuan. Yang jelasnya kompas yang digunakan sebagai penunjuk
jalan adalah Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga tidak ada yang melenceng dan
tersesat, saya yakin semua mempunyai pegangan yang kuat. dan inilah
yang membuat kita sering larut dalam “konflik” antar aktivis, karena
kita masih saja memperdebatkan apa yang memang tidak bisa kita
persatukan, karena memang dasar dalam memandang suatu masalah yang
berbeda. Di antara sekian banyak perbedaan, kenapa kita tidak mencari
persamaan?
Harakah Islam saya gambarkan sebagai pelangi yang
indah, semua mata akan betah memandangnya seraya bibirnya mengucap
tasbih akan keindahan ciptaan Ilahi. Namun bagaimana jika pelangi itu
menjadi tidak beraturan? Apakah masih akan indah kelihatan? Ataukah itu
menjadi tanda kiamat?
Ada hadits yang mengatakan bahwa perbedaan
umatku adalah rahmat, walaupun disebutkan bahwa hadits itu dhaif, Tapi
setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, karena isi dari kalimat
tersebut tidak salah, bahkan sesuai dengan kondisi kita saat ini. Anggap
perbedaan ini rahmat sehingga “konflik” bisa kita hilangkan. Lihatlah
dalam satu kebun, pasti akan menambah keindahan jika ditumbuhi beraneka
ragam bunga. Ada berwarna kuning, putih, merah, ungu. Sebenarnya jika
kita ingin saling mengerti dan memahami, maka semuanya akan menjadi
indah. Islam mengatur hubungan interaksi dengan non muslim dengan baik,
lalu kenapa kita harus memelihara hubungan yang kurang harmonis?
Saudaraku,
lihatlah impian yang di puncak gunung sana sedang melambaikan tangannya
kepada kita, dia merindukan kita untuk segera sampai ke sana, dan kita
pun dengan segala upaya menghampirinya, sekarang kita sementara berlari
ke arahnya, jangan sampai karena perbedaan latar belakang membuat kita
saling menjatuhkan di tengah jalan, jika kita saling menjatuhkan maka
siapakah yang akan sampai ke sana? Impian itu semakin melambaikan
tangannya, jangan sampai impian itu dihancurkan oleh ego kita semua.
Saatnya kita saling memapah, menopang dan saling menguatkan. Jika ada
saudaramu yang terjatuh mari kita papah dia, bukan malah menyumpahi
dengan sumpah serapah atau menertawakannya.
Ada penyakit yang
menjangkiti hati kita sebagai aktivis harakah Islam. Ketika kita
menganggap harakah kita paling sempurna dan harakah yang lain buruk,
bahkan membid’ahkan dan menyesatkan harakah lain. Padahal tidak ada satu
pun harakah yang sempurna, semua ada celahnya dan kekurangannya, karena
buatan manusia jadi tidak ada yang sempurna. Namun celah dan kekurangan
itu bisa ditutupi dengan bersatunya semua harakah Islam, kita saling
melengkapi dan menutup kekurangan. Bukan malah saling membongkar
kekurangan, tidak cukupkah Rasulullah menjadi panutan kita? Pernahkah
beliau mengajari kita untuk membongkar aib dan kekurangan saudara
sendiri? Rasulullah bersabda barang siapa yang menjaga aib saudaranya
maka Allah akan menjaga aibnya di hari kiamat.
Maaf atas segala kesalahan,
Wallahu A’lam bis shawab!






0 komentar:
Posting Komentar